Selasa, 13 Juni 2017

TKI TAIWAN Asal Mojokerto Terdeteksi Terjangkit Virus Zika


Centers for Disease Control (CDC) atau Dinas Pengawasan Penyakit melaporkan bahwa terdapat satu orang TKI yang tiba di Taiwan pada tanggal 1 Juni lalu dan terjangkit virus Zika.

Pekerja yang berusia 22 tahun dari kota Mojokerto Jawa Timur tersebut merasa tidak enak badan saat di pesawat dalam perjalanan ke Taiwan. Saat ia tiba di Bandara Internasional Kaohsiung, ia menjadi demam dan mata memerah.

Saat diuji tes demam berdarah, hasilnya negatif. Kemudian pemeriksaan lain menunjukkan jika ia positif terkena virus Zika. TKI tersebut ialah ABK yang akan pergi bekerja di sebuah kapal penangkap ikan laut. Kasus infeksi virus Zika pertama didapat dari warga negara Indonesia tahun ini. CDC mencatat bahwa mereka telah melaporkan kasus tersebut pada Departemen Luar Negeri, pemerintah Indonesia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Setelah dirawat oleh tim kesehatan, ia pun diperbolehkan untuk bekerja kembali. TKI tersebut siap bekerja pada hari Selasa di sebuah kapal penangkapan ikan di Kaohsiung.

Dua kasus Zika pertama sebelumnya berasal dari warga Thailand utara. Menurut CDC, orang dewasa menunjukkan gejala virus Zika yang hampir sama seperti flu biasa yaitu sakit kepala ringan, ruam kulit, nyeri sendi dan konjungtivitis (peradangan selaput mata). Bagi mereka yang mengidap virus tersebut harus menghindari hubungan badan selama dua bulan, bahkan 6 bulan. Dan bagi wanita hamil yang terkena virus Zika, anak yang dilahirkan akan mengalami kelainan kepala. Bayi tersebut akan lahir dengan kepala lebih kecil dan mengalami gangguan perkembangan otak.

Virus Zika (ZIKV) sendiri merupakan sejenis virus dari keluarga flaviviridae dan genus flavivirus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit Zika diketahui berawal dari daerah khatulistiwa Afrika dan Asia semenjak tahun 1950-an. Badan kesehatan dunia, WHO pada akhir tahun 2015 lalu mengumumkan status darurat kesehatan di seluruh dunia akibat bertambahnya penemuan penyakit virus Zika pada masyarakat dunia, terutama di Mexico atau Amerika Latin dan sekitarnya.


Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Taiwan telah melaporkan kasus impor ketiga infeksi virus zika yang disebabkan gigitan nyamuk di Taiwan tahun ini.

Saat ini kasus ketiga melibatkan warga negara Indonesia yang datang ke Taiwan untuk bekerja pada 1 Juni, demikian laporan kantor berita Taiwan (CNA), Selasa (7/6/2016).

Disebutkan, pria berusia 22 tahun yang berasal dari Mojokerto, Jawa Timur, itu tidak merasa nyaman di pesawat yang membawanya ke Taiwan.

CDC mengatakan, ketika pria itu tiba di Bandar Udara Internasional Kaohsiung, Taipei, dia diketahui mengalami demam dan mata memerah.

Menurut CDC, setelah diuji terhadap penyakit demam berdarah, pria itu dinyatakan negatif. Dia kemudian dikonfirmasi terinfeksi virus zika, Minggu (5/6/2016).

Pasien itu pulih dan hendak berangkat kerja di kapal pencari ikan yang meninggalkan Kaohsiung, Selasa (7/6/2016), demikian CDC.

CDC telah melaporkan kasus itu ke Kementerian Luar Negeri, Pemerintah Indonesia, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

CDC juga terus memperbarui peringatan kehati-hatian dalam melakukan perjalanan (travel advisory) ke Indonesia berdasarkan sistem tiga tahap (pengawasan, kewaspadaan, dan peringatan) sesuai urutan tingkat keparahan.

Dua kasus zika yang pertama diimpor oleh warga negara Thailand dari Udon Thani di wilayah utara Thailand.

Menurut CDC, pada orang dewasa hanya menunjukkan gejala ringan setelah terifeksi virus zika, tetapi perempuan hamil yang terinfeksi bisa melahirkan bayi dengan mikrosefalus.

Atas kondisi itu, perempuan hamil dan perempuan yang berencana untuk hamil disarankan untuk menghindari bepergian ke daerah epidemi zika.

Masyarakat juga diimbau untuk memperhatikan kondisi medis segera jika merasakan gejala yang mencurigakan dalam waktu dua pekan setelah meninggalkan daerah epidemi zika.

Gejala-gejala virus zika, termasuk demam, sakit kepala ringan, ruam kulit, nyeri sendi, dan konjungtivitis.

CDC meminta para perempuan yang kembali dari wilayah epidemik zika untuk menunda kehamilan selama dua bulan, apakah mereka terpapar beberapa gejala mencurigakan atau tidak.

Bagi kaum pria yang baru pulang dari wilayah epidemik zika tanpa gejala-gejala mencurigakan, mereka harus menghindari persetubuhan atau menggunakan kondom selama dua bulan.

Sedangkan pria yang terpapar gejala mencurigakan harus menghindari hubungan seksual atau berhubungan dengan menggunakan kondom sedikitnya enam bulan, demikian pernyataan CDC.

Pada Senin kemarin, Departemen Kesehatan Kaohsiung menyatakan bahwa sepasang suami-istri yang dicurigai kasus zika bulan lalu dinyatakan negatif setelah dua kali tes darah.

Namun, pasangan yang telah melakukan perjalanan ke Fiji dan Kepulauan Solomon pada 23 April-16 Mei 2016 dikonfirmasi terinfeksi virus chikungunya, demikian pernyataan departemen tersebut.

Sumber : Kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar